Welcome to My Blog

Sabtu, 20 Juni 2015



Author : Nazia Krismanita

            Matahari mulai bersinar tepat diatas kepalaku, namun teriknya sinar matahari tidak menyurutkan semangatku untuk pergi ke kampus bersama sahabatku, Ariana Grande.Mobil klasik milik Anna sudah terparkir didepan rumahku.
            Aku segera turun dari lantai 2 untuk menemui Anna.
“lama sekali!” ucap anna
“ I’m sorry sudah membuatmu menunggu,, :D” jawabku
“masuklah!” perintah anna.
“iya ya cerewet baget sih.”
            Aku pun masuk kedalam mobil merah klasik miliknya. Ini adalah rutinitas anna setiap harinya, menjemputku setiap kali akan pergi ke kampus. Yap! Aku begitu beruntung mempunyai sahabat seperti dia.
            Sesampainya di kampus, aku dan anna turun dari mobil. Kulihat para mahasiswa dan mahasiswi university  phoenix of  france ini berlari menuju lobi.
“what happen?” tanyaku heran melihatnya.
 “I dunno..”  anna mengangkat bahunya tanda tidak tau.
“let’s see it!” ajakku pada anna, anna mengangguk.
            Aku dan anna berlari menuju lobi, mencari tahu sesuatu yang terjadi disana. Semua mahasiswa dan mahasiswi mengarah ke papan pengumuman. Kami mendesak-desak agar dapat melihat papan pengumuman itu lebih jelas.

Ø  #Be Held Bonfire Party in the “EIFEL TOWER” at 00:00 midnight ! Jangan lewatkan Konser New Years Eve yang akan dibintangi oleh Coldplay, Taylor Swift, and Beyonce.  Ajak teman-temanmu dan keluargamu untuk merayakan “NEW YEARS EVE” on there.#

            Begitulahisi dari secarik kertas yang tertempel di papan pengumuman itu. Aku memandang anna memberikan isyarat dengan tatapan *apa kau mau kesana nanti malam?*
“why not? We must go there.” ucapnya.

 

            Pelajaran dari Mr. Clifford sama sekali tidak masuk kedalam otakku. Fikiranku masih melayang-layang, memikirkan pengumuman itu. *Bisakah aku mengikuti bonfire party itu tanpa membawa pasangan? -_-*  batinku.

“Hei Abbi! Abbigail Breslin! What do you think, huh?” Tanya Alexa mengagetkanku,
“kau mengagetkanku alex!” sangkalku.
“I’m sorry :D lagi mikirin apa sih? Siang siang kok ngelamun.” Tanyanya lagi.
“tidak ada yg sedang aku pikirkan..” dustaku.
“baiklah kalau kau tak mau mengaku! Eh, kau mau pergi kesana tidak?”
“kemana?”
“pesta bonfire di  eifel! I know that you are Taylor Swift’s admire, right? So,  aku yakin kau tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini..” ujar Alexa, seraya meletakkan kedua tangannya diatas meja yang ada didepanku, lalu melipatnya.
“you’re right! Aku akan kesana..”  ucapku.
“I’m join!!” teriak anna mendekati tempat aku dan alexa duduk.
“boleh”  balas alexa
“bagaimana jika ku ajak pacarku kesana?”
“yaa terserah kau..” jawabku
“oke, akan kuajak Kay J, thanks abbi, kau memang sahabat terbaikku.” Ucap anna.
“kalau begitu, aku juga akan mengajak  Justin! Biar rame, ya kan?” ujar alexa
“see it! Aku akan jadi obat nyamuk buat kalian dong?” ucapku merengut.
“sure no abbi, kita kan bersama-sama”
“but, I doubt it, kalian pasti akan jalan dengan pasangan kalian masing-masing. sedangkan aku? Kemungkinan besar aku akan dicuekin sama kalian? Gak enak dong! Lebih baik gak usah pergi jika begitu.!” Ucapku
“salahmu sih! Banyak cowo yang suka sama kamu, tapi malah kau tolak cintanya, kau tau kan  Greyson Chance, Logan Lerman, Christian Beadles itu keren and famous di kampus! Tapi kenapa kau justru  menolaknya? Abbi.. abbi… aku tak tau jalan fikiranmu.!” Comment alexa heran.
“aku masih ingin sendiri, kau tau?” jawabku enteng.
“apa kau masih cinta sama Austin? Huh?” Tanya anna
“ummh… I don’t know! Why are you say me like that?”
“come on.. akui saja abbi! We are best friend, right? So,  Apa lagi yang harus kau tutupi dari kita?” ujar alexa mendesakku. Aku merasa tidak enak hati.
“correct  alex! Abbi.. I know that you are often thinking about him, you still love him, right?” giliran anna yang ikut-ikutan menyudutkanku.
“whatever what do you say..”  jawabku menghiraukan ucapan mereka.
“well, tapi kau harus ikut kita pergi! Kita memaksa abbi!” ucap alexa dengan nada penuh penekanan.
“well, tapi awas jika kalian berdua menelantarkan aku disana!!” kataku memberi peringatan.
“promise!” jawab anna dan alexa hampir bersamaan.

                                               


            Jalanan kota Paris begitu ramai dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang untuk menuju menara eifel, itulah tujuan mereka.
            Malam ini adalah malam tahun baru. Sudah menjadi tradisi di kota Paris, tepatnya di taman eifel akan mengadakan pesta bonfire setiap malam tahun baru tiba. Biasanya akan ada 1jt bonfire yang akan menghiasi kota Paris ini, Tepat pada jam 12 malam nanti. Ada pula Konser Akbar yang akan mengiringi pesta bonfire untuk menyambut new years eve. Malam ini bintang tamunya adalah Coldplay, Taylor Swift dan Beyonce, penyanyi asal U.S.A. kau tau? aku termasuk salah satu penggemar Taylor Swift yang terkenal dengan sebutan Swifter. Dan aku suka semua lagu-lagunya, terutama single terbarunya *Blank Space* yang kini menjadi hits no.1 di situs Internet.  Adanya Taylor Swift disini menambah semangatku untuk menyambut tahun baru 2015 meskipun tanpa seorang pasangan.
            Aku lebih memilih menghabiskan malam tahun baru dengan teman-temanku, sedangkan mom, dan, dan mauzy menghabiskan new years eve di salah satu restaurant spicy di Paris. Seperti saat ini, aku berdiri diantara kedua pasangan kekasih, anna dan kay, alexa dan Justin. Well, aku menjadi obat nyamuk cap 3 roda made in Indonesia. Sudah kuduga, mereka akan mengabaikanku, mereka asik dengan pacar mereka masing-masing. Tentu saja.
            Aku memilih untuk pergi dari hadapan mereka. Sungguh menyebalkan!. Aku memutuskan walk out sendiri sambil menunggu Taylor Swift dan bintang tamu lainnya tiba. Aku melihat jam tangan yang melekat di lengan tangan kiriku. Masih jam 8 malam. Konser akan dimulai pada pukul 9 malam. Pikiranku melayang. Teringat pada percakapanku dengan anna dan alexa siang tadi di kampus. Jujur saja, kuakui memang aku masih menunggu Austin, karena aku masih mencintainya. Namun, sekarang aku tidak tahu bagaimana kabarnya. Sudah hampir 3 tahun  kita berpisah. Austin memutuskan untuk pindah ke Kanada untuk menyusul kedua orang tuanya disana.
Andai saja ada Austin disampingku, pasti aku tidak akan kesepian seperti saat ini. Air mata telah membendung dikelopak mataku. Aku membayangkan saat-saat bersamanya 3 tahun yang lalu, kenangan itu masih terekam jelas didalam otakku. My first love! I miss you..-_-.
            Aku menggeleng-gelengkan kepala, sadar dari lamunanku tentangnya. Aku berjalan menuju kedai ice cream yang terletak di dekat lampion taman eifel. Suasana malam di taman eifel tampak begitu indah ditambah dengan pernak-pernik yang menghiasi taman eifel. Sungguh mengagumkan untuk perayaan pesta tahun baru kali ini.
            Selesai membayar ice cream, aku memutuskan duduk di kursi panjang di taman depan menara, seraya menikmati indahnya menara eifel di malam hari.
            Samar-samar aku mendengar suara gitar yang mengalun dengan indah ditelinga. Aku mengira-ngira, apakah mungkin suara gitar ini adalah suara dari coldplay yang sedang menyanyi dibalik panggung? Ah tidak! It’s impossible! Kurasa mereka belum tiba disini. Tapi . . . siapakah yang memainkan gitar seindah ini?? Rasa penasaranku membawaku untuk mencari sumber dari suara gitar itu dilantunkan.
            Dari kejauhan, aku melihat seseorang yang sedang duduk direrumputan seorang diri, ia membelakangiku sembari memetikkan sebuah gitar yang terdengar begitu merdu. Aku mendekatinya. Suara gitar itu semakin terdengar jelas ditelingaku. Aku berdiri tepat dibelakangnya. Kurasa ia tidak menyadari kedatanganku.
‘Cause everything start from something
But something would be nothing
Nothing if your heart didn’t dream with me
We would I’ll be .  . .
If you didn’t believe

            Begitu indah dan sempurnanya ia dalam membawakan lagu itu dengan diiringi lantunan gitarnya. Kurasa, Ia mampu  memerintah seluruh indraku untuk mendengarkan lantunan gitar yang ia mainkan dan suaranya yang merdu dan kuyakin ia juga  mampu menghipnotis seluruh makhluk yang sedang mendengarnya menyanyi.
            Aku duduk disampingnya, tanpa peduli apakah ia akan bilang kepadaku *sok kenal sok dekat* atau apapun istilahnya. I don’t care.
“suaramu begitu indah” terangku sembari menengadahkan kepala  memandang indahnya langit malam yang dihiasi oleh berjuta bintang disana. Saat itu juga ia berhenti memainkan gitarnya, ia menoleh memandangku, aku pun ikut menoleh memandangnya.
#Dhegg!! Hatiku bergetar begitu hebat. Entah mengapa, aku merasa pernah melihatnya! Melihat matanya yang terasa begitu familiar daaaaan indah.
Aku pun merasakan ia terkejut akan kedatanganku yang tiba-tiba.
“abbi!!” panggilnya dengan mata berbinar-binar, aku menautkan kedua alisku. Bingung.
“abbi!! Are you Abigail Breslin, right?” ulangnya memanggilku. Aku mengerutkan keningku.
Ia tersenyum  lebar. Darimana dia tahu namaku?
            Laki-laki itu membuka topi yang menutupi sebagian kepalanya. Ia tersenyum kepadaku.
Mulutku menganga, aku menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku. Sungguh! Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang!? Tuhan! Bila perlu cabut nyawaku sekarang! Apakah benar, lelaki yang kini ada didepanku adalah dia? Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Diperlihatkannya wajah yang sangat rupawan dan tenang. Senyumnya tersungging begitu manisnya, hingga jantungku serasa menggelepar. Aku terbius dengan ketampanan yang sangat memikat hati.
dia menatapku gemas. “abbi!!” ia melambai-lambaikan tangannya tepat didepan wajahku dan kembali tersenyum. Aku tersadar! Mataku berkaca-kaca.
“AUSTIN!! . . . AUSTIN MAHONE!!!” aku menutup mulutku dengan telapak tangan kananku. Masih tidak percaya!
“kau tak ingin memelukku eh?” Austin merentangkan tangannya. Tanpa basa-basi aku langsung menghambur kepelukannya, ia memelukku sangat erat. Air mataku berderai, aku tak sanggup berkata-kata. Aku berusaha menahan isakan tangis hingga tenggorokan ini tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Austin balas memelukku. Dia membelai rambutku dan mengusap punggungku. Aku ingin berteriak karena bahagia. Sangat bahagia.
“I miss you..” isakku dalam pelukannya.
“I miss you too.. Abbi! Aku sangat bahagia karena akhirnya kita bisa bertemu kembali disini.” Balasnya tak henti hentinya mengecup rambutku.
Aku melepas pelukannya.
“bagaimana kau bisa berada disini? Bukankah kau ada di Kanada?” tanyaku penasaran.
Sebelum  menjawab, ia sempatkan untuk menghapus air mataku dengan telapak tangannya.
Sembari tersenyum, ia berkata “aku liburan kesini, karena aku sangat merindukan seseorang yang aku cintai.. dan seseorang itu ada dihadapanku sekarang.” Aku tersipu malu.
“kau kesini sendirian?” tanyaku, Austin menggeleng.
“tidak! Aku kemari bersama Caylen Elgort. Dia satu apartemen denganku.” Jawabnya. Lagi2 mulutku menganga dibuatnya.
“hah? Caylen Elgort? Kay? . .you know what?  he’s Anna’s boyfriend! Kau ingat Anna?”
Mengapa rasanya banyak sekali hal-hal yang tidak aku ketahui?
“iya kah? Tentu, aku masih ingat dengannya, karena dia adalah sahabatmu.” Jawabnya, aku mengangguk.
“sekarang, ceritakan padaku lebih rinci, mengapa kau bisa kembali ke Paris?” Austin mengangguk, kemudian dia membenarkan posisi duduknya.
            Lalu ia mulai bercerita semuanya kepadaku.
            Austin Mahone, he’s my first love. 2 hari yang lalu, dia terbang dari Kanada menuju ke Prancis, tepatnya di Kota Paris, setelah 3 tahun di Kanada, untuk menyelesaikan sekolahnya disana. Kini dia sudah semester 4 di University of Art di Kanada. Dia mengambil jurusan dibidang seni, maka dari itu dia bisa bermain gitar dengan indah dan bernyanyi begitu merdu. Sedangkan aku disini baru menginjak semester 2 di jurusan International Relationship.
            Dia bilang, seni itu indah, seni itu menarik, seni itu unik, seni itu mempunyai bentuk dan nilai, dan seni itu dapat mengembangkan kreativitas bagi siapa saja yang mau mempelajarinya. Dan kini, dia sedang liburan selama 2 bulan. Apalagi seminggu yang lalu adalah Christmas day and toningt is New Years Eve. Austin memutuskan untuk liburan di kota Paris dan merayakan Malam Tahun Baru disini. Seperti yang baru saja ia katakan, alasan utama dia terbang ke Paris adalah karena dia merindukan seseorang yg sangat dicintainya dan berharap bisa bertemu dengannya dan memastikan apakah  seseorang itu telah lupa dengannya atau tidak, karena dia tidak ingin seseorang itu melupakannya. Dia  tidak kuat lagi menahan rasa rindunya kepada seseorang itu selama 3 tahun belakangan ini. Dia terpaksa meninggalkan seseorang itu yg menjadi kekasih hatinya, demi menuruti kemauan orang tuanya untuk tinggal di Kanada bersama mereka. Seseorang itu adalah Abbigail Breslin. Yeah! It’s me..
            Sering kali Austin menghubungiku, tapi tidak terhubung, yaa! Karena jaringannya begitu sulit untuk berhubungan dari Kanada ke Prancis. Austin juga berusaha mengirimkan E-mail kepadaku, tapi tidak ada balasan dariku. Yaa! Karena aku tidak pernah membuka atau sekedar mengecek E-mail ku. Tapi dia bersyukur, karena saat ini Tuhan telah mengabulkan permintaannya. Dia dapat bertemu denganku kembali dimalam yang begitu indah lantaran suara gitar yang dia mainkan setengah jam yang lalu.
Aku sangat terharu mendengar ceritanya.
            Begitu pula denganku, aku pun bercerita kepadanya. Bagaimana sakitnya ditinggal oleh seorang Austin. Seseorang yang paling aku cintai. Sungguh berat menjalani hari-hariku tanpanya. Beberapa kali aku down ketika aku tahu bahwa dia pindah ke Kanada. Apalagi selama 3 tahun ini tidak ada kabar sama sekali darinya. Aku sungguh ingin melupakannya. Tapi aku tidak bisa. Semakin aku berusaha untuk melupakannya, semakin sering pula aku bermimpi tentangnya dalam tidur lelapku. Sempat aku berfikir untuk membuka hatiku kepada lelaki lain yang berusaha mendapatkanku, tapi aku tidak bisa. Hati ini selalu tertuju kepadanya. Fikiranku tak henti-henti untuk memikirkannya. Ketakutanku hanya satu. Aku takut kehilangan dirinya dan aku takut dia melupakanku.
            Air mataku kembali berderai. Austin menghapusnya dengan telapak tangannya, kemudian memelukku erat sekali.
“terima kasih sudah menungguku selama 3 tahun, aku kira kau akan melupakanku, tapi ternyata aku salah. Aku sangat terkejut saat melihatmu tiba-tiba ada disampingku, aku pikir, aku sedang bermimpi, but I know it’s real! Aku tak menyangka bahwa alunan gitar yang aku mainkan bisa membawamu kesisiku. Sejak harus meninggalkanmu, kau tau betapa sulitnya itu, benar-benar menghancurkan hatiku. Aku terus berharap agar kau tidak turut hancur berkeping-keping menghadapinya.”
Dia menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
“aku ingin bersamamu lagi seperti dahulu, aku ingin hanya kamu yang menemani hari-hariku, aku ingin hanya kamu yang selalu ada disisiku dalam suka dan dukaku. Maafkan semua kesalahanku yang begitu menyakitkan hatimu. I really apology… dapatkah kita memulai semuanya dari 0. Sungguh aku tak sanggup kehilanganmu. Please..! be mine. Be my whole girl until I die, until I stop to open my eyes and never smile again..” terang Austin.
Tangisanku kembali berderai, air mataku kembali mengalir dipipi. Aku sangat terharu dengan perkataan indah yang ditujukan kepadaku. Rasa bahagia, rasa tidak percaya, deg-degan bercampur menjadi satu.
Aku melepaskan pelukannya dan mengusap air mataku sendiri. Aku tersenyum.
“yes! I do!” jawabku tersenyum lebar. Austinpun tersenyum begitu lebar hingga deretan gigi putihnya terpampang dibibirnya.
            “kau tau kan? Aku tidak bias menolakmu?” lanjutku.
            Tetesan air mataku bagai tak terbendung. Aku sangat bahagia. Aku kembali memeluknya. Bayangan kebersamaan kami hingga akhir hayat tergambar dibenakku. Aku bisa merasakan kebahagiaan hatinya. Kehangatan menyelimuti kami. Jika ada kata yang lebih indah dan sempurna diatas *cinta dan bahagia* maka sungguh aku akan mengatakannya. Austin melepas pelukanku and then, he hold my hand.
“thanks so much, ‘cause you would accept me to be yours and your boyfriend again. I truly love you,  my beloved, my sweetheart,  mine J” ucapnya.
Austin meletakkan rambutku dibalik telingaku. Kedua telapak tangannya touch my cheeks, then he k*** me. After that, he hug me so tight.
“I love you, mine”
“I love you too” jawabku J
“aku ingin menyanyikan sebuah lagu special untukmu, apa kau mau mendengarnya?” Tawar Austin
“of course J, aku suka caramu memainkan gitar itu, I like your beauty voice too.so,please play for me..”  pintaku.
“pleasure baby, anything for you J” aku tersenyum lebar mendengarnya.
Jari-jarinya mulai menari-nari, memetik senar gitar dan mengalun dengan indah ditelingaku.

I always knew you were the best
The coolest girl I know,
So pratier than all you rest
The star of my show
So, many time I wish, you’d be the one for me
But never knew you’d get like this girl what youdo to me
**
You’re who I’m thinking off
                                                Girl you ain’t my runner up
And no matter what your always number one

(chorus)
My praise possession one and only
Adore you girl I want you
The one I can’t live without that you, that you
You’re my special little lady
The one that’s make me crazy
Of all the girl if ever know, it’s you it’s you
My favorite, my favorite, my favorite girl
my favorite girl

(bridge)
you take my breathe away
with everything you say
I just wanna be with you, my babny, my baby oh . . .
My miss don’t play no games
Treat you no other way
Than you deserve ‘cause you’re the girl of my dreams . . .

(repeat to chorus)

            Aku memandangnya, senyumku tak kunjung memudar dari bibirku. Begitu dia selesai menyanyikan lagu itu untukku, Austin meletakkan gitarnya disampingnya. Kemudian menatap mataku intens.
Sembari tersenyum, dia berkata “ kau masih seperti dulu,. masih tetap cantik dan selalu indah dimataku . .”
Aku tersipu malu.
Tiba-tiba terdengar teriakan yang sangat memekakan telinga.
“ABBII!!! ABBIII!!”
Seseorang memeriakkan namaku. Aku membalikkan tubuhku, mencari-cari siapa yang memanggil namaku.
“Anna!! I’m here!” aku melambai-lambaikan tanganku ke udara agar mereka melihatku. Lantas Anna, Alexa, Justin dan Kay berlari kearahku.
“kemana saja kau? Aku khaw…” ucapan Anna terpotong setelah ia menyadari bahwa ada Austin disebelahku. Anna terkejut. Mungkin ia tak percaya, sama seperti pertama kali aku melihatnya dan menyadari bahwa lelaki ini adalah Austin.
“Austin!” katanya tak percaya. Austin mengangguk dan tersenyum ramah sebagai balasannya.
“kau disini? Bukankah kau di Kanada? Sejak kapan kau di Prancis” Tanya Anna.
“2 hari yang lalu. Senang bisa bertemu denganmu lagi. J” ucap Austin sembari mengulurkan tangannya sebagai tanda perjumpaan setelah sekian lama tidak berjumpa. Anna mengangguk dan menjabat tangannya.
“akupun begitu .. syukurlah kau kembali.” katanya
“oh!! Aku mengerti . . . pantas kau menghilang sangat lama sampai kami menghawatirkanmu….., jadi ini alasannya, huh?” kata Anna menyelidik. Aku menunduk malu. Austin terkekeh.
“hey Kay!” sapa Austin
“oh! Aku teringat sesuatu . . kau dan Anna . . . pacaran, eh?” Tanya Austin menyelidiki.
“eh! Kau kenal dengan pacarku Am (Austim Mahone)?” Tanya Anna heran.
“dia . . satu apartemen denganku” jawab Kay.
“kenapa kau tak bilang kepadaku ?” Anna mencubit pinggang Kay.
“awh! Sakit baby!” Kay meringis, pura-pura kesakitan. Kita semua terkekeh, geli mendengarnya.
“aku tak tau kalau kau kenal dengan Austin. Kupikir dia orang asing disini.” Lanjut Kay santai.
“sialan kau!” celetuk Am menyenggol lengannya.
“kau tak pernah cerita, eh?” ucap Kay tak mau disalahkan. Ucapan Kay dijawab dengan tatapan misterius dari Austin.
“anyway, bagaimana kalian bisa bertemu disini? Please tell us.” Tanya Alexa penasaran. Austin mengangguk dan dengan senang hati dia bersedia menceritakan semuanya kepada mereka.
“kalian tidak boleh mendengar ceritaku sambil berdiri!” kata Austin memerintah. Kami semua mengangguk menyetujui.
Kemudian, kami semua mngambil posisi duduk yang nyaman, diatas rerumputan. Dan mulai mendengarkan semua penjelasan mengenai cerita kami dari Austin.
            Austin menceritakan semuanya kepada mereka ber-4. Mulai dari ketika aku duduk disampingnya dengan tiba-tiba akibat alunan gitar yang telah menghipnotisku dan akhirnya dapat membawaku kesisinya sampai kita kembali bersatu menjadi sepasang kekasih.
“whoa! It’s so  miracle love :D jodoh memang tak kemana..” ucap Justin mendoakan.
“just wishJ” jawab Am. Aku pun ikut mengaminkan dalam hati.
“ekheem, ciee yang udah gak galau-galauan lagi nih” ledek Alexa,
“apa kau?” aku menatapnya tajam. Mereka semua menertawaiku.
Anna mendekat kearahku, dan membisikkan sesuatu ditelingaku.
“kau bilang.. kau sudah tidak cinta lagi dengan Am, kau bilang kau sudah melupakannya…” bisiknya meledekku sembari menjulurkan lidah.
“itu kemarin, sekarang sudah lain lagi ceritanya..” ku balas menjulurkan lidahku.
“wuuu, dasar kauu..” aku dan Anna terkekeh dengan tingkah kami sendiri.
Kebahagiaan yang sempat memudar dan menghilang, kini telah dating kembali menyapaku.







 
            Suasana malam di Eifel semakin tak menentu. Teriakan dari para penonton membuat bising ditelingaku.
“TAYLORR..!! SWIFT!!! WE.. LOVE… YOOU!!!!!” begitulah suara teriakan dari para Swifter yang memekakkan telinga, namun juga meramaikan suasana taman Eifel malam hari ini.
Taylor Swift melambai-lambaikan tangannya untuk menyapa para penggemarnya yang bejibun.
“Good Night Everybody . . . !!! So Glad, I get show in here . . . so, I’ve already prepared special song at this night just for you all!!” sapa Taylor Swift begitu ramah dan disambut dengan teriakan yang semakin histeris dari kami para penggemarnya.
“well, ARE YOU READY TO HEAR MY SONG?!! BACK . . TO . . DE . . CEM . . BEEER!!!” teriak Taylor semangat, Tay mengarahkan microfhone nya kearah para penonton.
“READYYY!!!” teriak kami tak kalah semangat darinya.
“soo, enjoy the song!” ucapnya
            Alunan music mulai mengalun dengan tenang dan indah. Semua penonton sangat menikmati iringan music ini dan mendengarkannya sembari menggerakkan badan. Sebagian besar ada yang berjoget-joget, ada pula yang menangis histeris karena dapat menonton live idola mereka di atas panggung ini.
# so this is me swallowing my pride
Standing in front of you saying I’m sorry for that night
And I’d go back to December all the time
And turn off freedom ain’t nothing but missing you
Wishing I’d realize when I have of you were mind
I’d go back to December turn around and make it alright
I’d go back to December all the time
           
Semua penonton ikut menyanyikan lagu ini dengan gembira. Rasa haru menyambutku. Austin menggenggam tanganku erat. Akupun menatapnya, setelah sekian lama ia aku abaikan.
“kau terlihat sangat bahagia, baby?” ucap Am.
“apa?! Apa kau bilang??!!” teriakku, karena sungguh aku tidak mendengarnya. Yap! Kau tau lah bagaimana hiruk pikuknya suasana konser New Year Eve. Am terdiam. Lebih memilih terdiam. Aku melipat bibirku kedalam. Austin melihat jam tangannya yang melekat pada pergelangan tangan kirinya.
Disisi lain, Alexa, Justin, Kay, dan Anna sedang asik menikmati lagu yang dinyanyikn oleh Taylor Swift sembari menggerakkan badan. Seusai lagu itu dinyanyikan dengan indah, aku pun ikut melihat jam tanganku yang telah menunjukkan pukul 23.50. yep! 10 detik lagi.
Dua orang host memasuki area panggung, diikuti oleh bintang tamu lainnya.
“everybody here!! You know what?! Yeah! Inilah detik-detik menjelang tahun baru 2015, saat yang kita nanti-nantikan. Inilah saatnya kita menghitung mundur jarum jam, mulai dari sekarang!”
Semua penonton termasuk aku dan Am ikut bersorak dan mulai berhitung mundur.
“10..9..8..7..6..5..4..3..2……..satuuuuuuuu!!”
*Treeeeetttttt!!
Suara terompet mulai terdengar diseluruh penjuru angkasa, dan pesta bonfire pun dimulai.
Austin menarik tanganku tanpa izin, dan membawaku lari keluar dari area konser.
“kau mau membawaku kemana eh?” tanyaku
“just follow!” jawabnya
Entah, aku mau dibawa kemana olehnya. Aku hanya  mengikutinya. Aku semakin mengeratkan genggaman tangannya, dan Am menambahkan kecepatan berlarinya namun masih focus, karena ia masih menggenggam tanganku, agar aku tidak jatuh dengan konyol.
Austin membawaku masuk kedalam menara Eifel, melewati lift dan sampailah kami di puncak menara yang sudah penuh dengan pengunjung.
            Nafasku tak teratur akibat berlari tadi.
“see it!” jemarinya menunjuk ke langit, metaku ikut memandang dimana arah jemarinya menunjuk. Aku terpana dengan keindahan langit malam ini. Begitu indah langit malam disini yang telah dihiasi oleh ribuan bonfire. Aku terkagum dengan pemandangan malam ini.
“it’s so beautiful night!” ucap Am sembari melingkarkan kedua tangannya dipinggangku, memelukku dari belakang. Aku tersenyum lebar, lantas menyandarkan kepalaku didada bidangnya.
“perfect time, there is a New Years, there are you besides me” bisiknya di telingaku. Aku mengangkat wajahku untuk melihat wajahnya yang begitu tampan. Dia tersenyum mendengarnya.
“happy new years, baby! J” ucapku memperlihatkan senyuman termanisku.
“happy new years my sweetheart, long last with me J  balasnya, kemudian mengecup kepalaku dan terdiam sejenak, melepaskan kerinduannya pula.
“I hope so, ‘cause at present, I belong to you J
“yeah! You’re  right, you belong with me, and always be mine forever.” Jawabnya semakin mempererat pelukannya. Dia meletakkan dagunya dibahuku, 

            WELCOME 2015, AND GOODBYE TO 2014. Thanks God, Yo’re bring happiness in my life. Thanks ‘cause You were bring my first love back in my hugged. I’m so glad now.
“I’ll be standing right next to you forevermore, I love you mine J” ucap Am memandang lekat mataku.
“mine ?” tanyaku bingung karena dia memanggilku dengan sebutan mine.
“yes, mine J” aku tersenyum lebar mendengarnya.
“I love you too Austin Carter Mahone J” balasku tanpa ragu.
*Duaarrr!!! Ptk!! Kembang api terakhir menghiasi langit Eifel. Aku memandang keindahan diatas langit itu, begitu juga Austin, kami sama-sama memandang langit dengan senyuman yang tak kunjung memudar dari bibir kami.





 
            2 bulan pun berlalu, aku melewati hari-hariku dengan penuh kebahagiaan bersama Austin. Hari-hari yang penuh dengan warna dalam hidupku. Hari-hari yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.
            Kini aku sedang berada di Bandara kota Paris untuk mengantarkan kekasihku kembali ke Kanada dan meneruskan kuliahnya disana. Memang sangat berat, tapi apa boleh buat jika ini yang terbaik untuk masa depannya, maka aku akan mengikhlaskannya. Pesawat penerbangan jalur Kanada telah mendarat dengan sempurna di lapangan. Austin memelukku erat sebelum ia pergi.
“aku akan sangat merindukanmu mine.” Ucapnya dalam pelukan.
Aku mengangguk, mencoba tegar dengan semua ini. Dia memang pergi dan kembali ke Kanada, tapi bukan berarti dia telah meninggalkan aku disini, karena aku percaya pada janjinya. Ia berjanji kepadaku bahwa dia akan kembali kepadaku setelah ia sarjana nanti. I trust him! Bukankah dalam sebuah hubungan, kita harus saling percaya dengan pasangan kita, right? Itulah yang menjadi prinsipku saat ini.
“aku akan memegang janjiku.” Ungkapnya setelah ia melepaskan pelukannya.
“I  believes you, baby.” Jawabku
            Kemudian Austin melangkahkan kaki menuju pesawat yang akan membawanya kembali ke Kanada, meninggalkan aku sendiri yang sedang terpaku menatap  kepergiannya, air mataku tak sanggup kubendung lagi dipelupuk mataku, kubiarkan mereka mengalir dengan sempurna di pipiku. Sesampainya disisi pesawat, Austin melambaikan tangannya kepadaku sebelum dia benar-benar masuk kedalam badan pesawat itu. Reflek tanganku ikut melambai.
“BCAREFULL HONEY!!!” teriakku, Aku melihat Austin mengangguk kepadaku.
“PASTI! INGAT JANJI KITA! AKU AKAN SELALU MENCINTAIMU MINE, JUST YOU ABIGAIL BRESLIN!!!” teriaknya membalasku.
“IYA! AKU TAU! SAMPAI JUMPA SAYANG! I LOVE YOUUU!!!”teriakku lagi.
Dan dalam beberapa menit, pesawat itu telah meluncur, terbang bebas nun jauh di angkasa. Aku melambaikan tanganku pada pesawat itu, hingga ia benar-benar hilang dari pandanganku.
            Austin, aku berjanji akan selalu menjaga hatiku untukmu, karena aku telah menetapkan hatiku untukmu, hanya untukmu seorang. Dan aku sungguh sangat mencintaimu lebih dari apapun dan sampai kapanpun, sampai aku berhenti untuk bernafas, sampai darahku berhenti mengalir, sampai jantung ini berhenti untuk berdetak dan sampai aku lelah untuk membuka mataku untuk melihat dunia yang fana ini, dan sampai aku tidak akan pernah bisa tersenyum kembali pada dunia ini. Aku akan selalu mencintaimu Austin Carter Mahone, kekasihku, pujaan hatiku. Ada seorang pepatah yang mengatakan bahwa “cinta pertama tidak akan pernah terlupakan dihati kita” , dan aku mempercayainya, karena aku merasakan apa yang pepatah itu ungkapkan.
Mungkin inilah yang orang-orang sebut sebagai cinta sejati, yang kekal abadi sampai kita menghadap sang ilahi.
THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar