Author : Nazia Krismanita
Matahari mulai bersinar tepat diatas
kepalaku, namun teriknya sinar matahari tidak menyurutkan semangatku untuk
pergi ke kampus bersama sahabatku, Ariana Grande.Mobil klasik milik Anna sudah
terparkir didepan rumahku.
Aku segera turun dari lantai 2 untuk
menemui Anna.
“lama
sekali!” ucap anna
“ I’m
sorry sudah membuatmu menunggu,, :D” jawabku
“masuklah!”
perintah anna.
“iya ya
cerewet baget sih.”
Aku pun masuk kedalam mobil merah
klasik miliknya. Ini adalah rutinitas anna setiap harinya, menjemputku setiap
kali akan pergi ke kampus. Yap! Aku begitu beruntung mempunyai sahabat seperti
dia.
Sesampainya di kampus, aku dan anna
turun dari mobil. Kulihat para mahasiswa dan mahasiswi university phoenix of
france ini berlari menuju lobi.
“what
happen?” tanyaku heran melihatnya.
“I dunno..”
anna mengangkat bahunya tanda tidak tau.
“let’s
see it!” ajakku pada anna, anna mengangguk.
Aku dan anna berlari menuju lobi,
mencari tahu sesuatu yang terjadi disana. Semua mahasiswa dan mahasiswi
mengarah ke papan pengumuman. Kami mendesak-desak agar dapat melihat papan
pengumuman itu lebih jelas.
Ø
#Be
Held Bonfire Party in the “EIFEL TOWER” at 00:00 midnight ! Jangan lewatkan
Konser New Years Eve yang akan dibintangi oleh Coldplay, Taylor Swift, and
Beyonce. Ajak teman-temanmu dan
keluargamu untuk merayakan “NEW YEARS EVE” on there.#
Begitulahisi dari secarik kertas
yang tertempel di papan pengumuman itu. Aku memandang anna memberikan isyarat
dengan tatapan *apa kau mau kesana nanti malam?*
“why
not? We must go there.” ucapnya.
Pelajaran dari Mr. Clifford sama
sekali tidak masuk kedalam otakku. Fikiranku masih melayang-layang, memikirkan pengumuman
itu. *Bisakah aku mengikuti bonfire party itu
tanpa membawa pasangan? -_-* batinku.
“Hei
Abbi! Abbigail Breslin! What do you think, huh?” Tanya Alexa mengagetkanku,
“kau
mengagetkanku alex!” sangkalku.
“I’m
sorry :D lagi mikirin apa sih? Siang siang kok ngelamun.” Tanyanya lagi.
“tidak
ada yg sedang aku pikirkan..” dustaku.
“baiklah
kalau kau tak mau mengaku! Eh, kau mau pergi kesana tidak?”
“kemana?”
“pesta
bonfire di eifel! I know that you are
Taylor Swift’s admire, right? So, aku
yakin kau tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini..” ujar Alexa, seraya
meletakkan kedua tangannya diatas meja yang ada didepanku, lalu melipatnya.
“you’re
right! Aku akan kesana..” ucapku.
“I’m
join!!” teriak anna mendekati tempat aku dan alexa duduk.
“boleh” balas alexa
“bagaimana
jika ku ajak pacarku kesana?”
“yaa
terserah kau..” jawabku
“oke,
akan kuajak Kay J, thanks abbi, kau memang sahabat
terbaikku.” Ucap anna.
“kalau
begitu, aku juga akan mengajak Justin!
Biar rame, ya kan?” ujar alexa
“see it!
Aku akan jadi obat nyamuk buat kalian dong?” ucapku merengut.
“sure no
abbi, kita kan bersama-sama”
“but, I
doubt it, kalian pasti akan jalan dengan pasangan kalian masing-masing.
sedangkan aku? Kemungkinan besar aku akan dicuekin sama kalian? Gak enak dong!
Lebih baik gak usah pergi jika begitu.!” Ucapku
“salahmu
sih! Banyak cowo yang suka sama kamu, tapi malah kau tolak cintanya, kau tau
kan Greyson Chance, Logan Lerman,
Christian Beadles itu keren and famous di kampus! Tapi kenapa kau justru menolaknya? Abbi.. abbi… aku tak tau jalan
fikiranmu.!” Comment alexa heran.
“aku
masih ingin sendiri, kau tau?” jawabku enteng.
“apa kau
masih cinta sama Austin? Huh?” Tanya anna
“ummh… I
don’t know! Why are you say me like that?”
“come
on.. akui saja abbi! We are best friend, right? So, Apa lagi yang harus kau tutupi dari kita?”
ujar alexa mendesakku. Aku merasa tidak enak hati.
“correct
alex! Abbi.. I know that you are often
thinking about him, you still love him, right?” giliran anna yang ikut-ikutan
menyudutkanku.
“whatever
what do you say..” jawabku menghiraukan
ucapan mereka.
“well, tapi
kau harus ikut kita pergi! Kita memaksa abbi!” ucap alexa dengan nada penuh
penekanan.
“well, tapi
awas jika kalian berdua menelantarkan aku disana!!” kataku memberi peringatan.
“promise!”
jawab anna dan alexa hampir bersamaan.
Jalanan kota Paris begitu ramai
dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang untuk menuju menara eifel, itulah
tujuan mereka.
Malam ini adalah malam tahun baru.
Sudah menjadi tradisi di kota Paris, tepatnya di taman eifel akan mengadakan
pesta bonfire setiap malam tahun baru tiba. Biasanya akan ada 1jt bonfire yang
akan menghiasi kota Paris ini, Tepat pada jam 12 malam nanti. Ada pula Konser
Akbar yang akan mengiringi pesta bonfire untuk menyambut new years eve. Malam
ini bintang tamunya adalah Coldplay, Taylor Swift dan Beyonce, penyanyi asal
U.S.A. kau tau? aku termasuk salah satu penggemar Taylor Swift yang terkenal
dengan sebutan Swifter. Dan aku suka semua lagu-lagunya, terutama single
terbarunya *Blank Space* yang kini menjadi hits no.1 di situs Internet. Adanya Taylor Swift disini menambah semangatku
untuk menyambut tahun baru 2015 meskipun tanpa seorang pasangan.
Aku lebih memilih menghabiskan malam
tahun baru dengan teman-temanku, sedangkan mom, dan, dan mauzy menghabiskan new
years eve di salah satu restaurant spicy di Paris. Seperti saat ini, aku
berdiri diantara kedua pasangan kekasih, anna dan kay, alexa dan Justin. Well,
aku menjadi obat nyamuk cap 3 roda made in Indonesia. Sudah kuduga, mereka akan
mengabaikanku, mereka asik dengan pacar mereka masing-masing. Tentu saja.
Aku memilih untuk pergi dari hadapan
mereka. Sungguh menyebalkan!. Aku memutuskan walk out sendiri sambil menunggu
Taylor Swift dan bintang tamu lainnya tiba. Aku melihat jam tangan yang melekat
di lengan tangan kiriku. Masih jam 8 malam. Konser akan dimulai pada pukul 9
malam. Pikiranku melayang. Teringat pada percakapanku dengan anna dan alexa
siang tadi di kampus. Jujur saja, kuakui memang aku masih menunggu Austin,
karena aku masih mencintainya. Namun, sekarang aku tidak tahu bagaimana
kabarnya. Sudah hampir 3 tahun kita
berpisah. Austin memutuskan untuk pindah ke Kanada untuk menyusul kedua orang
tuanya disana.
Andai
saja ada Austin disampingku, pasti aku tidak akan kesepian seperti saat ini.
Air mata telah membendung dikelopak mataku. Aku membayangkan saat-saat
bersamanya 3 tahun yang lalu, kenangan itu masih terekam jelas didalam otakku.
My first love! I miss you..-_-.
Aku menggeleng-gelengkan kepala,
sadar dari lamunanku tentangnya. Aku berjalan menuju kedai ice cream yang
terletak di dekat lampion taman eifel. Suasana malam di taman eifel tampak
begitu indah ditambah dengan pernak-pernik yang menghiasi taman eifel. Sungguh
mengagumkan untuk perayaan pesta tahun baru kali ini.
Selesai membayar ice cream, aku
memutuskan duduk di kursi panjang di taman depan menara, seraya menikmati
indahnya menara eifel di malam hari.
Samar-samar aku mendengar suara
gitar yang mengalun dengan indah ditelinga. Aku mengira-ngira, apakah mungkin
suara gitar ini adalah suara dari coldplay yang sedang menyanyi dibalik
panggung? Ah tidak! It’s impossible! Kurasa mereka belum tiba disini. Tapi . .
. siapakah yang memainkan gitar seindah ini?? Rasa penasaranku membawaku untuk
mencari sumber dari suara gitar itu dilantunkan.
Dari kejauhan, aku melihat seseorang
yang sedang duduk direrumputan seorang diri, ia membelakangiku sembari
memetikkan sebuah gitar yang terdengar begitu merdu. Aku mendekatinya. Suara
gitar itu semakin terdengar jelas ditelingaku. Aku berdiri tepat dibelakangnya.
Kurasa ia tidak menyadari kedatanganku.
‘Cause everything start from
something
But something would be nothing
Nothing if your heart didn’t
dream with me
We would I’ll be . . .
If you didn’t believe
Begitu indah dan sempurnanya ia
dalam membawakan lagu itu dengan diiringi lantunan gitarnya. Kurasa, Ia mampu memerintah seluruh indraku untuk mendengarkan
lantunan gitar yang ia mainkan dan suaranya yang merdu dan kuyakin ia juga mampu menghipnotis seluruh makhluk yang sedang
mendengarnya menyanyi.
Aku duduk disampingnya, tanpa peduli
apakah ia akan bilang kepadaku *sok
kenal sok dekat*
atau apapun istilahnya. I don’t care.
“suaramu
begitu indah” terangku sembari menengadahkan kepala memandang indahnya langit malam yang dihiasi
oleh berjuta bintang disana. Saat itu juga ia berhenti memainkan gitarnya, ia
menoleh memandangku, aku pun ikut menoleh memandangnya.
#Dhegg!!
Hatiku bergetar begitu hebat. Entah mengapa, aku merasa pernah melihatnya! Melihat
matanya yang terasa begitu familiar daaaaan indah.
Aku pun
merasakan ia terkejut akan kedatanganku yang tiba-tiba.
“abbi!!”
panggilnya dengan mata berbinar-binar, aku menautkan kedua alisku. Bingung.
“abbi!!
Are you Abigail Breslin, right?” ulangnya memanggilku. Aku mengerutkan
keningku.
Ia
tersenyum lebar. Darimana dia tahu
namaku?
Laki-laki itu membuka topi yang
menutupi sebagian kepalanya. Ia tersenyum kepadaku.
Mulutku
menganga, aku menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku. Sungguh! Aku tidak
percaya dengan apa yang aku lihat sekarang!? Tuhan! Bila perlu cabut nyawaku
sekarang! Apakah benar, lelaki yang kini ada didepanku adalah dia? Aku
mengerjap-ngerjapkan mataku. Diperlihatkannya wajah yang sangat rupawan dan
tenang. Senyumnya tersungging begitu manisnya, hingga jantungku serasa
menggelepar. Aku terbius dengan ketampanan yang sangat memikat hati.
dia
menatapku gemas. “abbi!!” ia melambai-lambaikan tangannya tepat didepan wajahku
dan kembali tersenyum. Aku tersadar! Mataku berkaca-kaca.
“AUSTIN!!
. . . AUSTIN MAHONE!!!” aku menutup mulutku dengan telapak tangan kananku.
Masih tidak percaya!
“kau tak
ingin memelukku eh?” Austin merentangkan tangannya. Tanpa basa-basi aku
langsung menghambur kepelukannya, ia memelukku sangat erat. Air mataku
berderai, aku tak sanggup berkata-kata. Aku berusaha menahan isakan tangis
hingga tenggorokan ini tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Austin balas
memelukku. Dia membelai rambutku dan mengusap punggungku. Aku ingin berteriak
karena bahagia. Sangat bahagia.
“I miss
you..” isakku dalam pelukannya.
“I miss
you too.. Abbi! Aku sangat bahagia karena akhirnya kita bisa bertemu kembali
disini.” Balasnya tak henti hentinya mengecup rambutku.
Aku melepas
pelukannya.
“bagaimana
kau bisa berada disini? Bukankah kau ada di Kanada?” tanyaku penasaran.
Sebelum menjawab, ia sempatkan untuk menghapus air
mataku dengan telapak tangannya.
Sembari
tersenyum, ia berkata “aku liburan kesini, karena aku sangat merindukan seseorang
yang aku cintai.. dan seseorang itu ada dihadapanku sekarang.” Aku tersipu
malu.
“kau
kesini sendirian?” tanyaku, Austin menggeleng.
“tidak!
Aku kemari bersama Caylen Elgort. Dia satu apartemen denganku.” Jawabnya. Lagi2
mulutku menganga dibuatnya.
“hah?
Caylen Elgort? Kay? . .you know what? he’s Anna’s boyfriend! Kau ingat Anna?”
Mengapa
rasanya banyak sekali hal-hal yang tidak aku ketahui?
“iya
kah? Tentu, aku masih ingat dengannya, karena dia adalah sahabatmu.” Jawabnya,
aku mengangguk.
“sekarang,
ceritakan padaku lebih rinci, mengapa kau bisa kembali ke Paris?” Austin
mengangguk, kemudian dia membenarkan posisi duduknya.
Lalu ia mulai bercerita semuanya
kepadaku.
Austin Mahone, he’s my first love. 2
hari yang lalu, dia terbang dari Kanada menuju ke Prancis, tepatnya di Kota
Paris, setelah 3 tahun di Kanada, untuk menyelesaikan sekolahnya disana. Kini
dia sudah semester 4 di University of Art di Kanada. Dia mengambil jurusan
dibidang seni, maka dari itu dia bisa bermain gitar dengan indah dan bernyanyi
begitu merdu. Sedangkan aku disini baru menginjak semester 2 di jurusan
International Relationship.
Dia bilang, seni itu indah, seni itu
menarik, seni itu unik, seni itu mempunyai bentuk dan nilai, dan seni itu dapat
mengembangkan kreativitas bagi siapa saja yang mau mempelajarinya. Dan kini,
dia sedang liburan selama 2 bulan. Apalagi seminggu yang lalu adalah Christmas
day and toningt is New Years Eve. Austin memutuskan untuk liburan di kota Paris
dan merayakan Malam Tahun Baru disini. Seperti yang baru saja ia katakan, alasan
utama dia terbang ke Paris adalah karena dia merindukan seseorang yg sangat dicintainya
dan berharap bisa bertemu dengannya dan memastikan apakah seseorang itu telah lupa dengannya atau tidak,
karena dia tidak ingin seseorang itu melupakannya. Dia tidak kuat lagi menahan rasa rindunya kepada
seseorang itu selama 3 tahun belakangan ini. Dia terpaksa meninggalkan
seseorang itu yg menjadi kekasih hatinya, demi menuruti kemauan orang tuanya
untuk tinggal di Kanada bersama mereka. Seseorang itu adalah Abbigail Breslin.
Yeah! It’s me..
Sering kali Austin menghubungiku,
tapi tidak terhubung, yaa! Karena jaringannya begitu sulit untuk berhubungan
dari Kanada ke Prancis. Austin juga berusaha mengirimkan E-mail kepadaku, tapi
tidak ada balasan dariku. Yaa! Karena aku tidak pernah membuka atau sekedar
mengecek E-mail ku. Tapi dia bersyukur, karena saat ini Tuhan telah mengabulkan
permintaannya. Dia dapat bertemu denganku kembali dimalam yang begitu indah
lantaran suara gitar yang dia mainkan setengah jam yang lalu.
Aku sangat
terharu mendengar ceritanya.
Begitu pula denganku, aku pun
bercerita kepadanya. Bagaimana sakitnya ditinggal oleh seorang Austin.
Seseorang yang paling aku cintai. Sungguh berat menjalani hari-hariku tanpanya.
Beberapa kali aku down ketika aku tahu bahwa dia pindah ke Kanada. Apalagi
selama 3 tahun ini tidak ada kabar sama sekali darinya. Aku sungguh ingin
melupakannya. Tapi aku tidak bisa. Semakin aku berusaha untuk melupakannya,
semakin sering pula aku bermimpi tentangnya dalam tidur lelapku. Sempat aku
berfikir untuk membuka hatiku kepada lelaki lain yang berusaha mendapatkanku,
tapi aku tidak bisa. Hati ini selalu tertuju kepadanya. Fikiranku tak
henti-henti untuk memikirkannya. Ketakutanku hanya satu. Aku takut kehilangan
dirinya dan aku takut dia melupakanku.
Air mataku kembali berderai. Austin
menghapusnya dengan telapak tangannya, kemudian memelukku erat sekali.
“terima
kasih sudah menungguku selama 3 tahun, aku kira kau akan melupakanku, tapi
ternyata aku salah. Aku sangat terkejut saat melihatmu tiba-tiba ada
disampingku, aku pikir, aku sedang bermimpi, but I know it’s real! Aku tak
menyangka bahwa alunan gitar yang aku mainkan bisa membawamu kesisiku. Sejak
harus meninggalkanmu, kau tau betapa sulitnya itu, benar-benar menghancurkan
hatiku. Aku terus berharap agar kau tidak turut hancur berkeping-keping
menghadapinya.”
Dia
menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
“aku
ingin bersamamu lagi seperti dahulu, aku ingin hanya kamu yang menemani
hari-hariku, aku ingin hanya kamu yang selalu ada disisiku dalam suka dan
dukaku. Maafkan semua kesalahanku yang begitu menyakitkan hatimu. I really
apology… dapatkah kita memulai semuanya dari 0. Sungguh aku tak sanggup
kehilanganmu. Please..! be mine. Be my whole girl until I die, until I stop to
open my eyes and never smile again..” terang Austin.
Tangisanku
kembali berderai, air mataku kembali mengalir dipipi. Aku sangat terharu dengan
perkataan indah yang ditujukan kepadaku. Rasa bahagia, rasa tidak percaya,
deg-degan bercampur menjadi satu.
Aku
melepaskan pelukannya dan mengusap air mataku sendiri. Aku tersenyum.
“yes! I
do!” jawabku tersenyum lebar. Austinpun tersenyum begitu lebar hingga deretan
gigi putihnya terpampang dibibirnya.
“kau tau kan? Aku tidak bias
menolakmu?” lanjutku.
Tetesan air mataku bagai tak
terbendung. Aku sangat bahagia. Aku kembali memeluknya. Bayangan kebersamaan
kami hingga akhir hayat tergambar dibenakku. Aku bisa merasakan kebahagiaan
hatinya. Kehangatan menyelimuti kami. Jika ada kata yang lebih indah dan
sempurna diatas *cinta dan bahagia* maka sungguh aku akan mengatakannya. Austin
melepas pelukanku and then, he hold my hand.
“thanks
so much, ‘cause you would accept me to be yours and your boyfriend again. I
truly love you, my beloved, my
sweetheart, mine J” ucapnya.
Austin
meletakkan rambutku dibalik telingaku. Kedua telapak tangannya touch my cheeks,
then he k*** me. After that, he hug me so tight.
“I love
you, mine”
“I love
you too” jawabku J
“aku
ingin menyanyikan sebuah lagu special untukmu, apa kau mau mendengarnya?” Tawar
Austin
“of
course J, aku suka caramu memainkan gitar itu, I like your
beauty voice too.so,please play for me..”
pintaku.
“pleasure
baby, anything for you J” aku tersenyum lebar
mendengarnya.
Jari-jarinya
mulai menari-nari, memetik senar gitar dan mengalun dengan indah ditelingaku.
I always knew you were the best
The coolest girl I know,
So pratier than all you rest
The star of my show
So, many time I wish, you’d be
the one for me
But never knew you’d get like
this girl what youdo to me
**
You’re
who I’m thinking off
Girl
you ain’t my runner up
And no
matter what your always number one
(chorus)
My praise
possession one and only
Adore you girl I want you
The one I can’t live without that
you, that you
You’re my special little lady
The one that’s make me crazy
Of all the girl if ever know,
it’s you it’s you
My favorite, my favorite, my
favorite girl
my favorite girl
(bridge)
you take my breathe away
with everything you say
I just wanna be with you, my
babny, my baby oh . . .
My miss don’t play no games
Treat you no other way
Than you deserve ‘cause you’re
the girl of my dreams . . .
(repeat to chorus)
Aku memandangnya, senyumku tak
kunjung memudar dari bibirku. Begitu dia selesai menyanyikan lagu itu untukku,
Austin meletakkan gitarnya disampingnya. Kemudian menatap mataku intens.
Sembari
tersenyum, dia berkata “ kau masih seperti dulu,. masih tetap cantik dan selalu
indah dimataku . .”
Aku
tersipu malu.
Tiba-tiba
terdengar teriakan yang sangat memekakan telinga.
“ABBII!!!
ABBIII!!”
Seseorang
memeriakkan namaku. Aku membalikkan tubuhku, mencari-cari siapa yang memanggil
namaku.
“Anna!!
I’m here!” aku melambai-lambaikan tanganku ke udara agar mereka melihatku.
Lantas Anna, Alexa, Justin dan Kay berlari kearahku.
“kemana
saja kau? Aku khaw…” ucapan Anna terpotong setelah ia menyadari bahwa ada
Austin disebelahku. Anna terkejut. Mungkin ia tak percaya, sama seperti pertama
kali aku melihatnya dan menyadari bahwa lelaki ini adalah Austin.
“Austin!”
katanya tak percaya. Austin mengangguk dan tersenyum ramah sebagai balasannya.
“kau
disini? Bukankah kau di Kanada? Sejak kapan kau di Prancis” Tanya Anna.
“2 hari
yang lalu. Senang bisa bertemu denganmu lagi. J” ucap Austin sembari mengulurkan
tangannya sebagai tanda perjumpaan setelah sekian lama tidak berjumpa. Anna
mengangguk dan menjabat tangannya.
“akupun
begitu .. syukurlah kau kembali.” katanya
“oh!!
Aku mengerti . . . pantas kau menghilang sangat lama sampai kami
menghawatirkanmu….., jadi ini alasannya, huh?” kata Anna menyelidik. Aku
menunduk malu. Austin terkekeh.
“hey
Kay!” sapa Austin
“oh! Aku
teringat sesuatu . . kau dan Anna . . . pacaran, eh?” Tanya Austin menyelidiki.
“eh! Kau
kenal dengan pacarku Am (Austim Mahone)?” Tanya Anna heran.
“dia . .
satu apartemen denganku” jawab Kay.
“kenapa
kau tak bilang kepadaku ?” Anna mencubit pinggang Kay.
“awh!
Sakit baby!” Kay meringis, pura-pura kesakitan. Kita semua terkekeh, geli
mendengarnya.
“aku tak
tau kalau kau kenal dengan Austin. Kupikir dia orang asing disini.” Lanjut Kay
santai.
“sialan
kau!” celetuk Am menyenggol lengannya.
“kau tak
pernah cerita, eh?” ucap Kay tak mau disalahkan. Ucapan Kay dijawab dengan
tatapan misterius dari Austin.
“anyway,
bagaimana kalian bisa bertemu disini? Please tell us.” Tanya Alexa penasaran.
Austin mengangguk dan dengan senang hati dia bersedia menceritakan semuanya
kepada mereka.
“kalian
tidak boleh mendengar ceritaku sambil berdiri!” kata Austin memerintah. Kami
semua mengangguk menyetujui.
Kemudian,
kami semua mngambil posisi duduk yang nyaman, diatas rerumputan. Dan mulai
mendengarkan semua penjelasan mengenai cerita kami dari Austin.
Austin
menceritakan semuanya kepada mereka ber-4. Mulai dari ketika aku duduk
disampingnya dengan tiba-tiba akibat alunan gitar yang telah menghipnotisku dan
akhirnya dapat membawaku kesisinya sampai kita kembali bersatu menjadi sepasang
kekasih.
“whoa! It’s so miracle love :D jodoh memang tak kemana..”
ucap Justin mendoakan.
“just wishJ” jawab Am. Aku pun ikut mengaminkan dalam hati.
“ekheem, ciee yang udah gak
galau-galauan lagi nih” ledek Alexa,
“apa kau?” aku menatapnya tajam.
Mereka semua menertawaiku.
Anna mendekat kearahku, dan
membisikkan sesuatu ditelingaku.
“kau bilang.. kau sudah tidak
cinta lagi dengan Am, kau bilang kau sudah melupakannya…” bisiknya meledekku
sembari menjulurkan lidah.
“itu kemarin, sekarang sudah lain
lagi ceritanya..” ku balas menjulurkan lidahku.
“wuuu, dasar kauu..” aku dan Anna
terkekeh dengan tingkah kami sendiri.
Kebahagiaan yang sempat memudar
dan menghilang, kini telah dating kembali menyapaku.
Suasana
malam di Eifel semakin tak menentu. Teriakan dari para penonton membuat bising
ditelingaku.
“TAYLORR..!! SWIFT!!! WE.. LOVE…
YOOU!!!!!” begitulah suara teriakan dari para Swifter yang memekakkan telinga,
namun juga meramaikan suasana taman Eifel malam hari ini.
Taylor Swift melambai-lambaikan
tangannya untuk menyapa para penggemarnya yang bejibun.
“Good Night Everybody . . . !!!
So Glad, I get show in here . . . so, I’ve already prepared special song at
this night just for you all!!” sapa Taylor Swift begitu ramah dan disambut
dengan teriakan yang semakin histeris dari kami para penggemarnya.
“well, ARE YOU READY TO HEAR MY
SONG?!! BACK . . TO . . DE . . CEM . . BEEER!!!” teriak Taylor semangat, Tay
mengarahkan microfhone nya kearah para penonton.
“READYYY!!!” teriak kami tak
kalah semangat darinya.
“soo, enjoy the song!” ucapnya
Alunan
music mulai mengalun dengan tenang dan indah. Semua penonton sangat menikmati
iringan music ini dan mendengarkannya sembari menggerakkan badan. Sebagian
besar ada yang berjoget-joget, ada pula yang menangis histeris karena dapat
menonton live idola mereka di atas panggung ini.
#
so this is me swallowing my pride
Standing
in front of you saying I’m sorry for that night
And
I’d go back to December all the time
And
turn off freedom ain’t nothing but missing you
Wishing
I’d realize when I have of you were mind
I’d
go back to December turn around and make it alright
I’d
go back to December all the time
Semua
penonton ikut menyanyikan lagu ini dengan gembira. Rasa haru menyambutku.
Austin menggenggam tanganku erat. Akupun menatapnya, setelah sekian lama ia aku
abaikan.
“kau
terlihat sangat bahagia, baby?” ucap Am.
“apa?!
Apa kau bilang??!!” teriakku, karena sungguh aku tidak mendengarnya. Yap! Kau
tau lah bagaimana hiruk pikuknya suasana konser New Year Eve. Am terdiam. Lebih
memilih terdiam. Aku melipat bibirku kedalam. Austin melihat jam tangannya yang
melekat pada pergelangan tangan kirinya.
Disisi
lain, Alexa, Justin, Kay, dan Anna sedang asik menikmati lagu yang dinyanyikn
oleh Taylor Swift sembari menggerakkan badan. Seusai lagu itu dinyanyikan
dengan indah, aku pun ikut melihat jam tanganku yang telah menunjukkan pukul
23.50. yep! 10 detik lagi.
Dua
orang host memasuki area panggung, diikuti oleh bintang tamu lainnya.
“everybody
here!! You know what?! Yeah! Inilah detik-detik menjelang tahun baru 2015, saat
yang kita nanti-nantikan. Inilah saatnya kita menghitung mundur jarum jam,
mulai dari sekarang!”
Semua
penonton termasuk aku dan Am ikut bersorak dan mulai berhitung mundur.
“10..9..8..7..6..5..4..3..2……..satuuuuuuuu!!”
*Treeeeetttttt!!
Suara
terompet mulai terdengar diseluruh penjuru angkasa, dan pesta bonfire pun
dimulai.
Austin
menarik tanganku tanpa izin, dan membawaku lari keluar dari area konser.
“kau
mau membawaku kemana eh?” tanyaku
“just
follow!” jawabnya
Entah,
aku mau dibawa kemana olehnya. Aku hanya mengikutinya. Aku semakin mengeratkan
genggaman tangannya, dan Am menambahkan kecepatan berlarinya namun masih focus,
karena ia masih menggenggam tanganku, agar aku tidak jatuh dengan konyol.
Austin
membawaku masuk kedalam menara Eifel, melewati lift dan sampailah kami di
puncak menara yang sudah penuh dengan pengunjung.
Nafasku
tak teratur akibat berlari tadi.
“see it!” jemarinya
menunjuk ke langit, metaku ikut
memandang dimana arah jemarinya menunjuk. Aku terpana dengan keindahan
langit malam ini.
Begitu indah langit malam disini yang telah dihiasi oleh ribuan bonfire. Aku terkagum dengan
pemandangan malam ini.
“it’s so beautiful night!” ucap
Am sembari melingkarkan kedua tangannya dipinggangku, memelukku dari belakang.
Aku tersenyum lebar, lantas menyandarkan kepalaku didada bidangnya.
“perfect time, there is a New
Years, there are you besides me” bisiknya di telingaku. Aku mengangkat wajahku
untuk melihat wajahnya yang begitu tampan. Dia tersenyum mendengarnya.
“happy new years, baby! J” ucapku memperlihatkan senyuman termanisku.
“happy new years my sweetheart,
long last with me J”
balasnya, kemudian mengecup kepalaku dan terdiam sejenak, melepaskan
kerinduannya pula.
“I hope so, ‘cause at present, I
belong to you J”
“yeah! You’re right, you belong with me, and always be mine
forever.” Jawabnya semakin mempererat pelukannya. Dia meletakkan dagunya
dibahuku,
WELCOME
2015, AND GOODBYE TO 2014. Thanks God, Yo’re bring happiness in my life. Thanks
‘cause You were bring my first love back in my hugged. I’m so glad now.
“I’ll be standing right next to
you forevermore, I love you mine J” ucap Am memandang lekat mataku.
“mine ?” tanyaku bingung karena
dia memanggilku dengan sebutan mine.
“yes, mine J” aku tersenyum lebar mendengarnya.
“I love you too Austin Carter
Mahone J” balasku tanpa ragu.
*Duaarrr!!! Ptk!! Kembang api
terakhir menghiasi langit Eifel. Aku memandang keindahan diatas langit itu,
begitu juga Austin, kami sama-sama memandang langit dengan senyuman yang tak kunjung
memudar dari bibir kami.
2 bulan pun berlalu, aku melewati
hari-hariku dengan penuh kebahagiaan bersama Austin. Hari-hari yang penuh
dengan warna dalam hidupku. Hari-hari yang tak akan pernah aku lupakan seumur
hidupku.
Kini aku sedang berada di Bandara
kota Paris untuk mengantarkan kekasihku kembali ke Kanada dan meneruskan
kuliahnya disana. Memang sangat berat, tapi apa boleh buat jika ini yang
terbaik untuk masa depannya, maka aku akan mengikhlaskannya. Pesawat
penerbangan jalur Kanada telah mendarat dengan sempurna di lapangan. Austin
memelukku erat sebelum ia pergi.
“aku
akan sangat merindukanmu mine.” Ucapnya dalam pelukan.
Aku
mengangguk, mencoba tegar dengan semua ini. Dia memang pergi dan kembali ke
Kanada, tapi bukan berarti dia telah meninggalkan aku disini, karena aku
percaya pada janjinya. Ia berjanji kepadaku bahwa dia akan kembali kepadaku
setelah ia sarjana nanti. I trust him! Bukankah dalam sebuah hubungan, kita
harus saling percaya dengan pasangan kita, right? Itulah yang menjadi prinsipku
saat ini.
“aku
akan memegang janjiku.” Ungkapnya setelah ia melepaskan pelukannya.
“I believes you, baby.” Jawabku
Kemudian Austin melangkahkan kaki
menuju pesawat yang akan membawanya kembali ke Kanada, meninggalkan aku sendiri
yang sedang terpaku menatap kepergiannya, air mataku tak sanggup kubendung
lagi dipelupuk mataku, kubiarkan mereka mengalir dengan sempurna di pipiku.
Sesampainya disisi pesawat, Austin melambaikan tangannya kepadaku sebelum dia
benar-benar masuk kedalam badan pesawat itu. Reflek tanganku ikut melambai.
“BCAREFULL
HONEY!!!” teriakku, Aku melihat Austin mengangguk kepadaku.
“PASTI!
INGAT JANJI KITA! AKU AKAN SELALU MENCINTAIMU MINE, JUST YOU ABIGAIL
BRESLIN!!!” teriaknya membalasku.
“IYA!
AKU TAU! SAMPAI JUMPA SAYANG! I LOVE YOUUU!!!”teriakku lagi.
Dan
dalam beberapa menit, pesawat itu telah meluncur, terbang bebas nun jauh di
angkasa. Aku melambaikan tanganku pada pesawat itu, hingga ia benar-benar
hilang dari pandanganku.
Austin, aku berjanji akan selalu menjaga
hatiku untukmu, karena aku telah menetapkan hatiku untukmu, hanya untukmu
seorang. Dan aku sungguh sangat mencintaimu lebih dari apapun dan sampai
kapanpun, sampai aku berhenti untuk bernafas, sampai darahku berhenti mengalir,
sampai jantung ini berhenti untuk berdetak dan sampai aku lelah untuk membuka
mataku untuk melihat dunia yang fana ini, dan sampai aku tidak akan pernah bisa
tersenyum kembali pada dunia ini. Aku akan selalu mencintaimu Austin Carter
Mahone, kekasihku, pujaan hatiku. Ada seorang pepatah yang mengatakan bahwa “cinta
pertama tidak akan pernah terlupakan dihati kita” , dan aku mempercayainya,
karena aku merasakan apa yang pepatah itu ungkapkan.
Mungkin
inilah yang orang-orang sebut sebagai cinta sejati, yang kekal abadi sampai
kita menghadap sang ilahi.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar